Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Minggu, 31 Januari 2010

CERITA DIKIN (1)

Di suatu hari suasa desa ramai seperti tahun-tahun sebelumnya,mengingat Hari Raya Lebaran beberapa lagi tiba.Banyak wargaku yang merantau ke Jakarta atau kota Besar lainnya kembali untuk merayakan Lebaran bersama keluarga atau istilahnya mudik Lebaran. Ada yang menggunakan rombongan bis ,mobil pribadi ,motor dan bajai.Tak ada waktu yang pasti waktu iba di desaku. Mereka yang menggunakan bis rombongan turun dengan bawaan barang atau oleh2 dari Jakarta. Dan aku tanya kepada temanku si Eko apa enaknya naik bis rombongan kan mahal!Beliau jawab," Setahun sekali tak masalah yang penting nyaman sampai di kampung".Dan beliau bila naik bis semurah2nya harga 3 kali lipat harga normal dan resiko tak nyaman di dalam perjalanan.Dalam hatiku benar juga enak naik rombongan.

Kemudian ada wargaku yang menggunakan motor dengan beberapa bawaan tersusun rapi dengan kompoi2 masuk ke desaku,yang menandakan mereka sampai dengan selama dengan di saksikan berapa anak-anak di bawah sebayaku. Yang lucu lagi yang menggunakan bajai bergaya layaknya sinetron di tv, di belakang bajai di hiasi ketupat, dan terpasang bendera merah puting layaknya baru pulang dari medan perang.

Di malam takbiran temanku berkumpul di tepi jalan tepatnya depan gerbang sekolah SD. Mereka saling bercerita selama bekerja di Jakarta, semuanya cerita suka dan duka selama bekerja di Jakarta masing-masing . Aku yang belum pernah bekerja di Jakarta di buat hanya untuk mendengar saja, ya maklumlah namanya juga belum pernah.

Usai merayakan lebaran di kampung halaman, mulai para warga desaku kembali ke Jakarta tak jarang membawa sanak saudara untuk mengadu nasib di Jakarta. Banyak teman-temanku mengajak aku untuk mencari pekerjaan di Jakarta namun aku masih bingun dan takut. Ternyata kakakku mengajakku ke Jakarta dan mengatakan ada pekerjaan dan sesuai kemampuanku. Kakak berkata " Dikin Bosku butuh penjaga untuk sekolah TK, ya kamu tinggal di dalam. Kamu mau tidak ?"Akhirnya aku terima,Baiklah.

Sebelum berangkat ke Jakarta ,dengan rasa berat ayam jago kesayanganku jual ke pasar yang aku gunakan sebagai ongkos ke Jakarta. Dan sore harinya aku berangkat dari ke jakarta menggunakan angkutan bis malam Dwi Sri yang berharap esok pagi sampai di Jakarta dan dapat istrirahat berapa hari di tempat kakak iparku.

Setelah berapa hari aku di Jakarta , pekerjaan yang telah di janjikan ternyata hanya cerita saja. Setiap aku tanya hanya jawaban sabar dan sabar. Sehinggan keuanganku semakin hari semakin menipis, walaupun setiap hari hanya 1 kali saja. Setelah 3 Minggu di Jakarta keuangan selah habis terpaksa aku menjadi pemulung ini jauh dari angan-anganku sewaktu tinggal di desa. Walaupun ini yang terjadi tetap aku jalani dengan sabar dan iklas. Terkadang seharian tak makan hanya minum itupun dari air kran yang belum di masak, ini karena hasil ku cari barang-barang bekas dari tempat TPA belum ada yang dapat di jual.

Setelah 1 bulan lebih hidup di Jakarta , akhirnya aku dapat kembali ke kampung halaman, hal ini karena keiklasan ,kesabaran serta doaku. Aku dapat bertemu dengan temanku, akhirnya belium memberikan uang sekedar untuk ongkos pulang ke kampung.

Sesampai di kampung halaman , aku bersyukur karena telah dapat kembali dengan selamat dan mensyukuri Nikmat Allah , karena bekerja sebagai buruh petani lebih mulia dan terhormat jauh dari hal-hal yang dapat merugikan orang lain ya seperti korupsi, pencuri atau lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar