Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Senin, 05 April 2010

MERINTIS USAHA DI RUMAH

Pada tanggal 03 April 2010, saya pergi ke toko bangunan yang ada di Suradadi - Tegal yang tujuannya untuk membeli triplex 6 mm untuk membuat kotak sebagai tempat penetasan telor ayam, mengingat komponen dan alat-alatnya sudah di beli di Jakarta. Hal ini sesuai catatan material yang belum di beli hanya beberapa saya seperti teriplek, kaca.

Setelah sampai di toko bangunan tersebut dan mengetahui harganya,ayahpun berpikir kembali mengingat harga 1 lembar seharga Rp.95.000,- +Rp.25.000,- biaya antar dengan becak sampai di rumah. Akhirnya ayah putuskan triplek tersebut minta di potongkan beberapa ukuran sesuai di butuhkan dan mudah di bawa menggunakan sepeda motornya.

Setelah membayar harga material tersebut dan mendapatkan bon bukti pelunasan pembayaran kemudian tak lupa menitipkan material di toko bangunan tersebut. Sayapun di ajak ke pasar untuk membeli seragam pramuka yang baru mengingat yang lama sudah sempit. Setelah sampai di pasar Suradadi dan motor telah di pakirkan, saya bersama ayah menutup los-los di pasar yang ada menjual pakaian seragam sekolah. Setelah sampai ayah lansung menanyakan seragam pramuka seukuran tubuhku. Setelah pas pakaian tersebut ayahpun menanyakan berapa harganya. Pedagang membuka harga Rp. 30.000,- lalu ayah tawar Rp. 20.000,- ternyata pedagang tersebut setuju. Setelah seragam tersebut di bungkus dan ayah membayarnya, sayapun di ajak ke dalam pasar untuk membeli kebutuhan untuk di masak seperti ayam 1 kg, kelapa 2 butir , bumbu gulai minyak goreng, buah apel dan semuanyapun yang ayah beli selalu di tawar bila tak cocok ayahpun pindah ke los lainnya.

Setelah semua telah di beli dan merasa sudah cukup, semua belanjaan di ikat di motor ayah setelah selesai ayahpun kembali ke toko material untuk mengambil material yang dititipkan. Setelah membayar ongkos pakirpun saya bersama ayah langsung menuju ke toko material tersebut. Sesampai di toko material ayahpun pakir kembali, kemudian mengambil material yang di titipan dan tak lupa ucapkan terima kasih. Material tersebut ayah ikat kembali di motornya dengan sangat hati-hati dan perhitungan mengingat untuk menghindari hal2 yang tak diinginkan di jalan dalam waktu pulang ke rumah. Dan semua telah siap ayah dan akupun pulang ke rumah, di dalam perjalan ayah sangat hati-hati membawa motornya dan pelan2 secara outomatis masalahnya barangan bawaan cukup berat juga.

Sesampai di rumah semua barang-barang diturunkan , lalu ayah membawa barang yang khusus ke dapur yang segera di masak. Setelah sampai di dapur ayah langsung mencuci ayam hingga bersih ,lalu di masukan ke wajan kemudian di beri air secukupnya ke mudian di taruh ke tungku untuk di masak. kemudian tungku di nyalakan, sambil menunggu air mendidih dan ayam menjadi matang ayahpun menyiapkan wadah lagi untuk memeras santan kelapa.

Setelah santan kelapa sudah siap , bumbu rendah siap, minyak goreng siap, yaa tunggu ayam benar-benar matang. Setelah ayam sudah sudah matang lalu di angkat dari wajang di pindahkan panci semudian wajan pasang lagi ke tungku lalu. Di berikan minyak goreng secukupnya untuk mengoreng bumbu-bumbu sampai tercium harum lalu santan di masukan juga ke dalam wajan kemudian ayampun di masukan kembali sambil di aduk-aduk hingga mendidih dan benar-benar masakan gulai ayam matang siap untuk makan siang saya bersama ayah.

Setelah gulai ayam buat ayam matang dan telah dipindahakn ke mangko besar lalu di letakkan di meja makan. Lalu ayahku masak lagi beras menjadi nasi itupun saya hanya dapat memperhatian saya , tapi sekira di suruh menbantu pasti ayahku sesuai dengan kemampuanku.

Setelah semua telah siap , baik nasi, ayam gulai telah di letakkan di atas meja makan, kemudian ayahku juga menyiapkan piring, gelas serta sendok dan garpu. Mulailah saya bersama ayah untuk makan, tapi tak lupa berdoa dulu untuk menyantap masakan ayahku atas bersyukur rejeki yang telah di terimanya hari ini kepada Allah.

Setelah selesai makan bersama ayah , piring, dan gelas yang kotor saya bawa ke dapur untuk di cuci dan di kembalikan ke rak piring. Kata ayah kita harus belajar disiplin dari kecil dari lingkungan rumah dulu dengan rasa tanggung jawab, mengingat bila di rumah malas dan tak bertanggung jawab gimana bila nanti aku besar hidup dalam masyarakat , nantinya bisa merugikan diri sendiri.

Setelah semua semua selesai . ayahku mulai merakit pembuatan mesin tetas di bantu dengan om Dikin, Ternyata semua yang ayah lalukan sesuai rencana gambar yang ayang buat , setelah aku tanya ayah jawab agar pekerjaan sesuai rencana dan tak kurang suatu apapun. Mengingat aku masih kecil jadi aku hanya membantu sekiranya ayah anggap mampu seperti menyediakan minum dan makanan kecil , terkadang rokok ayah habis akupun di suruh membeli di warung. Dari siang sampai malam Ayahku bersama om Dikin membuat mesin tetas telor sesuai yang di inginkan . Kata ayah lebih baik meciptakan lapangan pekerjaan dari pada mencari pekerjaan., mengingat lapangan pekerjaan terbatas yang mencari pekerjaan banyak sekali.

Setelah jam 9 malam akupun tidur malam , tapi aku lihat ayah dan om Dikin pekerjaan belum selesai. Esok hari nya aku tanya ? Jam berapa ayah selesai membuat mesin tetasnya katanya jam 12 malam. Pantes sampah dari pembuat mesin tetas belum di bersihkan. Setelah mesin tetas jadi dan alat kerja di simpan pada tempatnya akupun mulai membantu menyapu dan membuat ke tempat sampah , sehingga rumah ku bersih lagi.

Kemudian ayah mengajak om Dikin untuk membeli telor ayam kampong dari warga sekitarnya dalam satu desa, setiap warga di tanya bila ada yang menjual telor ayah akan membelinya. Setelah mencoba kesana kemari namun hasil nol. Akhirnya ayah memutuskan untuk membeli telor bebek saja , setelah tanya sana kemari dari desa ke kesan akhir mendapat info ada di tetangga desa yang usahanya sebagai pengumpul telor bebek . Ayah bersama om Dikin mendatangi tetangga desa yang usaha pengumpul telor bebek tersebut , setelah tanya setiap warga yang di jumpai akhir berhasil bertemu.

Di tempat usaha pengumpul telor bebek ayah bertanya sekiranya mana yang telor yang masih baru atau baru datang dari pertenakan bebek tersebut. Dan berapa harganya per butirnya. Ternyata telor bebek seharga Rp. 1200,- ternya harga cukup murah dari harga di pasar dan waktunya juga lebih pasti yang di harapkan. Namun Ayah dan sipengumpul telor bebek sama-sama tak tahu sekiranya telor bebek yang dapat di tetaskan. Tapi hanya tahu perbandingan bebek jantan 1 perbanding 7 bebek betina perkiraan saja . Setelah ayah mengambil telor sebanyak 60 butir yang dengan memilih sendiri akhirnya ayah membayarnya. Kemudian ayah dan om Dikin pamit pulang kepada kepada si pengumpul telor bebek tersebut.

Sesampai di rumah ayah lalu membersihkan telor bebek dengan air panas kuku , hal ini agar kuman-kuman yang melekat pada telor mati kemudian ayah lakukan dengan alcohol agar benar-benar kumannya mati agar tidak mengganggu embrio berkembang atau tanda-tanda kehidupan. Setelah semua telor sudah benar-benar bersih dan kering lalu di beri tanda X pada permukaan depan dengan belakangnya 0 agar sewaktu membalikkan lebih mudah apakah telor tersebut sudah di balik. Setelah mesin tetas telor sudah siap di fungsikan seperti kebutuhan panas sudah sesuai antara 37 C sampai 39 C dan nampan air sudah di masukan, kemudian di masukkan telor bebek di masukan ke dalam mesin tetas telor yang ayah buat. Saya tanya mengapa harus di butuhkan 37 C sampai 39 C panasnya ? Ayah bilang bahwa telor bebek dapat di tetaskan apa bila panasnya 37 C sampai 39 C sesuai pada induk ayam dan entok dalam mengerami telornya. Kemudian telor bebek tersebut biarkan selama 4 hari tampa harus di balik ataupun di semprot air hangat kuku tapi jangan sampai lampu listrik mati dan bila terjadi pemadaman listrik segera di nyalakan lampu minyak tanahnya. Setiap hari saya memperhatikan mesin tetas telor dan bila lampu listrik mati saya sampaikan kepada ayah atau ibu segera menyalakan lampu minyak tanahnya. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah selalu memperhatikan ataupun pulang sekolah memperhatikan telor dalam mesin tetas.

Setelah memasuki hari ke 4 ayah mulai melakukan penyecekan kembali apakan telor tersebut termaksud telor yang dapat di tetaskan atau tidak. Setelah ayah cek dengan bantuan cahaya lampu 60 watt ternyata terdapat sebanyak 20 butir yang tidak layat alias tidak di buahi pejantan dan 4 butir yang masih ragu-ragu. Walaupun demikian ayah tetap melanjutkan atau memasukan telor bebek tersebut dalam mesin tetasnya. Dan proses selanjutknya selama 21 hari terhitung hari ke 5 mulailah proses pembalikan dan penyemprotan dengan air hangat kuku sebanyak 4 kali dalam sehari yaitu pagi , siang , sore dan malam.

Pada hari yang ke 5 , di pagi harinya mulai melakukan pengemprotan dengan air hangat kuku dan pembalikan telor bebek tersebut , siangnyapun demikian , sore dan malam sama juga dilakukan sampai hari ke 25 dan ini semua di lakukan oleh mamaku sedangkan ayah bekerja seperti biasa dengan alasan mencari modal dan buat kebutuhan sehari-hari. Walaupun demikian ayah selalu memberi semangat kepada mamaku agar dapat dilakukan tugasnya sebagai operator mesin tetas telor dengan sungguh-sungguh. Kata ayah apapun jenis mesin tetas telor dari yang manual sampai otomatis tak berjalan dengan baik pampa operatornya.

Setelah waktu yang hari yang ke 26 sampai hari 28 saatnya waktu proses penetas. Dan ini pekerjanan mamaku sebagai operator mesin tetas berkurang maksudnya tak perlu mengempot telor bebek dengan air hangat kuku dan membalikkan telor lagi, tapi hanya menjaga suhu dalam mesin tetas tetap terjaga seperti bila terjadi mati listrik segera menyalakan lampu darurat yaitu lampu minyak tanah. Pada hari ke 26 sudah ada telor yang retas-retas yang artinya proses penetasan mulai berjalan. Dari pagi saya perhatikan dan siangnya sudah ada bebek ke luar dari telornya saya segera kabarkan kepada mama bahwa ada telor yang menetas. Setelah mama melihat sangat bersyukur bahwa yang telah di lakukan selama ini tak sia-sia. Setelah bulu-bulu bebek pertama sudah kering oleh mamaku bebek segera di pindahkan di bawah mesin dan cangkangnya segera di singkirkan keluar mesin tetas. Dan sorenya sudah ada lagi telor yang retak-retak sebanyak 4 buah dan aku terus memperhatikan dan malamnya 4 ekor bebek sudah ke luar dari cangkangnya setelah kering mama pindahkan di bawah mesin dan cangkangnya segera di singkirkan juga. Sampai malam aku bersama mama memperhatikan proses penetasan sampai akhirnya aku tertidur dan mamapun tidur pula.

Di pagi harinya pada hari yang ke 27 sudah beberapa ekor bebek yang menetas dan bulu-bulunya sudah kering segera saya pindahkan ke bawah mesin tetas dan mama hanya tersenyum bangga bahwa saya sudah dapat membantu mama. Dan mama mempersiapkan kardus besar dan atasnya di beri lampu sebagai penghangat buat bebek-bebek yang baru menetas selama 10 hari. Setelah bebek sudah di pindahkah ke dalam kardus lalu mama memberi minuman dan makanan buat bebek-bebek itu. Rasa senang dan bangga punya mama yang pintar dan punya rasa tanggung jawab.

Setelah selesai mama melakukan tugas sebagai operator lalu mama menyiapkan sarapan pagi seperti hari-hari sebelumnya. Setelah sama-sama sarapan pagi bersama mama dan selesai sayapun membantu taruh piring, gelas yang kotor di tempat cucian. Setelah selesai saya ijin main ke tempat teman sebentar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar